PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) mulai mempergunakan BBN (bahan bakar nabati) untuk kebutuhan energinya. Itu dilakukan untuk penghematan, sekaligus membudayakan penggunaan energi alternatif. Untuk kebutuhan tersebut, PLN menganggarkan dana sebesar Rp35 miliar untuk BBN.
Total anggaran itu ditetapkan dengan menggunakan asumsi harga biosolar Rp4.800 per liter. Kebutuhan BBN sebesar itu akan digunakan untuk membangkitkan energi listrik sekitar 26 gigawatthour (Gwh). Untuk itu, awal tahun ini PLN telah menandatangani kesepakatan bersama penggunaan BBN dengan PT Indonesia Power, PT Pembangkit JawaBali (PJB), PT Pembangkit Sumatera Utara, Aceh dan Riau, serta PT Pembangkitan Sumatera Bagian Selatan. "Itu kebutuhan biofuel yang mencapai 7.400 kiloliter (kl)," ujar Deputi Direktur Perencanaan Sistem PLN Djoko Prasetyo.
Pada Februari 2009 la1u, Komisi VII DPR telah menyetujui alokasi subsidi BBN, yang diusulkan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) maksimal sebesar Rp1.000 per liter jika harga BBN lebih tinggi dibandingkan dengan harga bahan bakar minyak (BBM).
Sumber: Seputar Indonesia
Total anggaran itu ditetapkan dengan menggunakan asumsi harga biosolar Rp4.800 per liter. Kebutuhan BBN sebesar itu akan digunakan untuk membangkitkan energi listrik sekitar 26 gigawatthour (Gwh). Untuk itu, awal tahun ini PLN telah menandatangani kesepakatan bersama penggunaan BBN dengan PT Indonesia Power, PT Pembangkit JawaBali (PJB), PT Pembangkit Sumatera Utara, Aceh dan Riau, serta PT Pembangkitan Sumatera Bagian Selatan. "Itu kebutuhan biofuel yang mencapai 7.400 kiloliter (kl)," ujar Deputi Direktur Perencanaan Sistem PLN Djoko Prasetyo.
Pada Februari 2009 la1u, Komisi VII DPR telah menyetujui alokasi subsidi BBN, yang diusulkan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) maksimal sebesar Rp1.000 per liter jika harga BBN lebih tinggi dibandingkan dengan harga bahan bakar minyak (BBM).
Sumber: Seputar Indonesia
